Pagi ini, sekitar jam 9 pagi aku pergi ke kantin Masjid Salman, yang memang letaknya cukup dekat dengan tempatku tinggal, untuk sarapan. Di perjalanan (sekitar trotoar Jl Gelap Nyawang), ada seekor anak kucing hitam yang berusia kira-kira 7 hari yang mengeong pilu, karena kehilangan induknya beserta saudara-saudaranya.
Mendengar suaranya, aku pun refleks membalas dengan suara kucing yang dibuat-buat. Merasa sautannya telah dibalas, anak kucing tersebut segera menghampiriku dengan jalan yang sempoyongan (entah, memangnya apa yang barusan kuucapkan dalam bahasa kucing tadi sehingga nak kucing itu menghampiriku. Apa jangan-jangan dalam bahasa kucing barusan aku berucap “sini pus, kemari..” atau apa..gak jelas juga)
—-
Mungkin karena melihat setelan selop+kaus kaki+rok ku yang serba hitam, senada dengan warna bulunya, ia jadi menganggap kakiku ini induk atau mungkin saudara-saudaranya. Anak kucing itu naik ke atas selopku, dan setengah tertidur. “Oh jangan di sini pus” pikirku. Maka aku menyingkirkan tubuhnya yang mungil dari atas kakiku dan menyingkir. Anehnya, kemana aku berjalan, ia mengikutiku terus.
Dengan sedikit berjongkok, aku menatap mukanya dan membayang “Maaf pus sayang.. tempatku tinggal tidak mengizinkan aku memeliharamu di sana..”, dan menaruhnya di tempat yang aman agar ia aman dan terhindar dari kaki kaki manusia yang jauh ebih besar dari ukuran tubuhnya, dan melangkah pergi menjauh darinya.
Pus yang malang…. Ia mengeong-ngeong semakin pilu saat ku tinggalkan. “Maaf pus, ota gak bisa….maaf” dengan hati yang teriris aku bertolak pergi menjauhinya yang semakin mengeong pilu (beneran sedih banget ngeongannya… T_T ).
Tanpa ku sadari, aku tidak bisa membendung air mata…ia jatuh begitu saja. “Dasar okta payah, kenapa gitu aja nangis sih.. Dasar ibu kucing jahat, kenapa kamu tinggalkan anakmu sendirian, di dunia yang besar ini…kenapa…” batinku gusar. “Aah, kenapa engkau tangisi..bukankah kucing adalah hewan yang kuat? bukankah mereka dapat hidup walau saat kecilnya telah ditinggalkan oleh induk mereka? jadi gak akan apa-apa tanpa aku juga” pikirku positif mencerahkan batin.
—-
Seusai sarapan di kantin, aku takut menemui kucing kecil itu…Aku takut menangis lagi karenanya. Gak tega, beneran!! Maka kuputuskan untuk mengambil jalan yang berbeda dari tempat kutaruh anak kucing tersebut.
Tetapi apa daya, hati tak dapat dinafikkan pintanya, aku berbalik menuju jalan di mana aku menemui anak kucing tersebut. Aku iba, sekaligus rindu anak kucing itu. Aku ingin sekedar melihat wajahnya, mengelus tubuhnya yang ringkih, dan mengobrol lewat hati dengannya.
Tetapi, manusia hanya sanggup merencanakan, dan keputusan ada di ‘Tangan” Allah. Dari kejauhan kulihat ada sesuatu tergeletak diam di atas trotoar. Aku mendekati, dan itu adalah tubuh anak kucing malang yang kini terbujur kaku, tanpa kembang-kempis napas kehidupan.
Aku terluka, aku merasa begitu berdosa. “Aku ini tega!! Andai ku bawa ia ke kantin, dan sekedar memberikan remahan sarapanku di sana…Andai ku bawa ia ke areal masjid, dan kuberikan sepercik air segar di sana…Andai..Andai…YA Alloh” pikirku begitu kalut.
—
Alloh, maafkan aku. Ya Engkau telah mengujiku. Anak kucing itu meminta perlindungan dariku saat itu, dan aku enggan memberikannya, dan meninggalkannya. Aku jahat! Aku meninggalkannya sendirian! Di saat aku meninggalkannya, Engkau tersenyum kepada anak kucing itu dan memberikan tempat perlindungan terbaik kepada anak kucing yang telah meminta dan berharap perlindungan. Engkau memberikannya tempat yang jauh..jauh..jauh lebih baik Yaitu di sisiMu ya Rab.
(ditulis dengan linangan air mata mengharap maaf darimu. Tolong mintakan maaf ota ke Alloh juga puss…)
T_T
-12 Oktober 2011 akan aku ingat selalu-

aaaaa,
sedih T^T
kak.q ikut terharu kak baca texsnya…