“apa ini?” tanyanya dalam hati ketika melihat sebuah email dari yang tiada disangka akan tiba.
Sebuah pesan yang bertuliskan pengejawantahan mimpi besar seorang yang kecil. Pesan satu-dua alinea itu membangkitkan sebuah jiwa yang pernah surut, menjadi menggelora. Tapi tiba-tiba semuanya bagaikan kendali-kendali atas hati yang berperan laksana kereta-kereta jet coaster yang setia naik turun mengikuti besi-besi yang dibentuk sedemikian rupa.
“Wah, waktunya terlalu sempit..” pikirnya. Akhirnya, suatu kesempatan yang menggugah impiannya itu harus rela ia kesampingkan. Dalam hatinya ia mencaci maki, betapa payahnya dirinya saat itu.
“Gagal 2 kali…yah, baru dua kali. Lalu engkau bermuram durja seperti itu? Hei, jika gagal dua kali saja sudah kau anggap payah, bagaimana engkau menyebut seorang Thomas yang gagal 1000 kali dalam menginversi sebuah bola lampu kawat? “ begitu timpalan dari temannya.
Ia tersentak kemudian tersadarkan.
———————————————————————————————————————————————-
Penggalan beberapa baris cerita di atas mengingatkan kita atas suatu fase yang mewarnai hari-hari kehidupan. Yup, jika ada terang, pastilah ada gelapnya. Maka jika ada hasil, tentulah ada gagalnya.
Dan tak dinanya, ia datang kerap kali atas apa-apa yang kita sukai.
Mari kita kunjungi sejenak karya indah dari WS Rendra.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
Sungguh tiada pantas saat Allah memberikan ujian kegagalan, dan kita bemuram dan berhenti melangkah lagi. Berprasangka baik saja kepada yang Maha Perencana , toh Ia tiada akan pernah mendzolimi hambaNya. Kegagalan bukalan suatu ketetapan yang menyengsarakan, ada pelajaran di balik-balik pintunya. Dan janganlah kita pernah berhenti melangkah di jalan mimpi. Maka tak benar jika ada pikiran yang meraja “semuanya sudah takdir, mimpi itu bukan untuk kau raih.”
Bukan kita yang memilih takdir
Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin
Bagi seorang pemanah
Kita harus selalu mencoba
Untuk membidik dan melesatkannya
Di saat yang paling tepat
-Shalahuddin Al Ayyubi-
Stephen R Covey berkata “Temukan nurani Anda, dan dengarkanlah”.
Kemudian…
“Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh”
“Apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya”
Begitu kira-kira yang tertulis dalam sebuah kaidah fiqh, yang baru saja selesai terbaca…
maka, putuskanlah, tetapkanlah..untuk tetap bangun ketika terjatuh nanti. Bersegeralah untuk bangkit ketika tersungkur kelak. Mulai lagi!! ^0^9
———————————————————————————————————————————————
Maka aku memulai untuk menulis kembali
Engkau yang peneliti, mulailah kembali kerja-kerja keras untuk menginversi.
Engkau sang pengusaha muda, ciptakanlah kembali inovasi.
Engkau sang pemburu ilmu, meski mula sulit dimengerti, ngotot saja terus belajar dan mendengarkan agar ilmu asing itu teresapi
Engkau sang pembuat skripsi, mulailah berlari
“Mari meloncat lebih tinggi!!! Yihaaa.. “
