Ada yang bilang, Tak kenal, maka ta’aruf. Itulah yang mesti saya perbuat saat ini. Ketika pertama kali datang ke Borneo, pulau terbesar di Indonesia, dan masuk ke dalam hutannya, saya merasa begitu asing. Pasalnya, saya tidak mengenal jenis-jenis tumbuhan yang saya temui. Semuanya tampak asing di hadapan saya. Paling-paling hanya sebagian kecil yang saya pikir saya berkenalan dengannya (well, bahasa gue aja begitu).
Masuk ke hutan yang lembab, dan banyak dengan nyamuk-nyamuk yang bertebangan. Nyamuk di sini bukan hanya nyamuk biasa, akan tetapi nyamuk-nyamuk di hutan ini sanggup menembus pertahanan celana jeans sekalipun. Sehingga, tidaklah heran jika semua badan tak terkecuali yang ditutup oleh pakaian sekalipun terdapat bercak-bercak merah di sana-sini akibat gigitan nyamuk.
Lupakan sejenak tentang nyamuk, dan marilah kita kembali membicarakan mengenai tumbuhan di sana. Kebanyakan jenis tumbuhan di tempat penelitian saya kali ini adalah tumbuhan hutan sekunder. Sayang sekali, tapi memang sebagian besar daerah di lokasi Kutai ini merupakan lahan bekas HPH (izin penebangan hutan untuk diambil kayunya) sehingga, hanya satu-dua pohon tinggi (dari hutan primer) yang masih tersisa.
Hari pertama, saya menuju ke hutan di daerah Berkat. Di sana terdapat rawa-rawa yang dalamnya mencapai dada orang dewasa. Beruntung, ketika saya datang, rawa tersebut sedang surut, sehingga saya dapat meniti kayu yang melintang di tengah rawa untuk menyeberang. Kayu hitam, yang sangat besar dan saya tidak mengenali kayu apakah gerangan. Perjalanan terus berlanjut.
Di pertengahan jalan, saya menemukan sebuah kayu yang jika di kelupas kulitnya berwarna merah, dan tercium berbau bawang. Orang lokal biasa menyebutnya Kayu Bawang Utan. Karena pohonnya begitu tinggi, saya tidak dapat melihat bentuk daun secara jelas, dan hanya dapat mengingat-ingat cirinya melalui batangnya yang berwarna kemerah-merahan. Si merah Scorodocarpus borneensis.

Hari berikutnya saya kembali menjelajahi hutan, hanya saja kali ini saya menuju daerah Lestari. Dibantu oleh seorang teman, saya mengambil beberapa spesimen tumbuhan yang tidak saya kenali. Jika spesimen tumbuhan yang saya ambil adalah tumbuhan yang tidak saya kenali, maka seharusnya saya mengambil spesimen seisi hutan saat itu. Tapi saya sadar diri, spesimen-spesimen yang saya ambil ini belum tentu dapat saya identifikasi semuanya, jadi ya diambil seadanya saja.
Ada satu spesies tumbuhan yang sangat ditakuti oleh Pak Daud. Namanya Gluta walichii. Spesies ini memiliki getah berwarna hitam, dan jika batangnya tertebas, maka akan menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat untuk orang yang berada di sekitarnya. Makannya Pak Daud, dan orang-orang yang sensitif macem saya ini agak ngeri deket-deket tumbuhan ini. Gatalnya lebih parah daripada getah Talas.
Sementara ini dulu, sesi awal perkenalanku dengan tumbuhan di Kalimantan Timur. Semoga hari kedepannya bisa belajar lebih banyak lagi mengenai tumbuhan di sini. Terutama impian bertemu dengan Dryobalanops camphora kayu dipterocarp idaman.


asik ya jalan2 terus
tetep bagi2 ilmu ya di blog…