Tumbuhan itu dikelompokkan menjadi tumbuhan berpembuluh dan tumbuhan tak berpembuluh. Tumbuhan yang sudah termodifikasi lebih maju adalah tumbuhan yang berpembuluh (Tracheophyta / Tracheobionta), tapi kalau yang ini sudah banyak dibahas. Yang akhir-akhir ini jarang mendapat sorotan adalah saudaranya, tumbuhan tak berpembuluh (Bryophyta). Karena kasihan kurang mendapatkan ekspose ke dunia luar, saya akan coba membahasnya sekarang.
Bryophyta, atau lumut merupakan organisme multiseluler dalam bentuk herba (tumbuhan kecil), gak pernah tu ditemuin lumut yang sampai setinggi pohon. (Pohon lumut, hehehe lucu juga, boleh-boleh^^). Lumut yang paling besar di dunia terdapat di pulau Kalimantan dan Papua (harusnya kita bangga akan hal ini^^). Tingginya mencapai 1 meter, nama lumut ini adalah Rhodobrium sp.
Habitat lumut adalah di tempat yang lembab. Kenapa? Ada dua alasan. Pertama, karena lumut memiliki sifat Poliqiohidric atau sangat tergantung dengan air. Jadi kalau misalnya Anda menemukan ada lumut yang sekarat (kering, cokelat, kalau dilihat dengan lup mukanya memelas), pertolongan pertamanya adalah dengan menyiramkan air, dan ajaib bim salabim, atas kehendak Allah, lumut itu perlahan menjadi segar, tangkai sporofitnya (atau disebut seta) mulai tegak karena akan adanya tekanan turgor , mulai menghijau, dan kalau dilihat dengan lup wajahnya segar dan ceria.
Kemudian alasan kedua adalah, kerena lumut selalu memerlukan air untuk proses fertilisasinya. Sperma dari tumbuhan jantan (alat reproduksinya disebut dengan anteridium), akan bergerak secara kemotaksis (mendekati arah rangsang kimiawi) ke arkegonium (alat reproduksi betina) melalui bantuan air. Saat sperma terkena air, akan ada sulur-sulur yang keluar yang disebut dengan eleater. Sulur ini berfungsi untuk membuat sperma tersebut dapat berjalan ke arah trigger (basa inggrisnya rangsangan, mulai saat ini pake istilah trigger aja ya ^^). Kemudian dari hasil fertilisasi inilah, terbentuk kapsul pada sporofitnya (inget ya, sporofit adalah bagian reproduktinya si lumut, hasil pembesaran dari arkegonium, dimana disana dihasilkan spora [analoginya kayak ibu hamilnya gitu lah] yang jika telah matang, siap ditebarkan, dan akan menjadi baby lumut beberapa hari kemudian). Fase dominan dari lumut adalah fase gametofit, atau yang biasa kelihatan sebagai daunnya.

Berdasarkan klasifikasi Kenrick dan Crane (1998), Bryophyta terbagi menjadi 3 divisi, yaitu :
- Bryophyta (lumut daun, atau mosses)
- Marcanthiophyta (lumut hati, atau liverworts)
- Anthocerotophyta (lumut tanduk, atau hornworts)
Untuk membedakan lumut satu dengan yang lain, dapat dilihat dari karakter-karakter tertentu, yaitu bentuk thallus/daunnya, posisi antar daunnya, dan substrat/tempat dimana ia melekat. Substrat lumut dapat berupa kayu yang lembab, batu, tanah, daun, dan batang pohon. Biasanya untuk jenis lumut yang melekat pada substrat yang tingkat kelembapannya rendah, maka biasanya spesies-spesies ini dianugerahi oleh Allah suatu modifikasi khusus yang disebut lobul (khusus untuk leafy liverworts tertentu). Lobul adalah suatu modifikasi morfologi khusus yang berguna untuk menyimpan air. Biasanya terletak di bagian ventral (bagian tubuh yang menghadap bumi/bagian bawah), dan berbentuk seperti balon air atau ada juga yang seperti mangkok. Apapun jenis lumutnya, biasanya akan menyimpan air, termasuk lumut yang tidak ber-lobul sekalipun.
Apakah kegunaan lumut dalam hidup kita, dan bagi lingkungan kita ? Ya,untuk lingkungan, lumut dapat mendegradasi batu menjadi materi yang lebih rapuh/tanah, sehingga biji tumbuhan kecil lain yang semula radikula akar barunya tidak dapat menembus batu saat berkecambah, karena proses degredasi yang secara tidak langsung dilakukan oleh lumut, menjadi dimudahkan berkecambahnya (atas kehendak Allah jua^^), dan sama-sama hidup disana. Secara tidak langsung keberadaan lumut juga mempengaruhi mikroklimat di suatu tempat. Suatu daerah dimana intensitas cahaya mataharinya memiliki tingkat lux yang tinggi, ada kemungkinan untuk menambah suhu udara lokal (daerah bukaan misalnya). Adanya penguapan yang tinggi dari lumut, akan menjaga tingkat kelembapan lokal lokasi tersebut (hanya sementara sih, tergantung kelimpahan lumut di tempat tersebut). Sementara untuk kehidupan kita, lumut menyediakan air yang sangat segar lagi manis rasanya untuk diminum saat berada di hutan dan tidak membawa air minum (hehehe, belajar dari pengalaman pribadi…=P) dan masih baaa-nyak kegunaan lainnya yang saya belum ketahui. Ilmu Allah itu luas sekali yaaa….(^0^)b

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai tumbuhan yang baik ?(QS Asy Syu’araa :7)
Semoga manfaat…^^